Teras Pujangga

Kamis, 29 Januari 2015

PETUAH TENTANG SEORANG IBU

Salam Para Pembaca yang budiman,

Lama sekali saya tidak menulis banyak hal di blog ini, di karenakan begitu besar kesibukkan saya dalam rutinitas harian yang cukup padat. Tapi kali ini saya akan coba meluangkan waktu untuk sedikit mengisi apa yang telah lama saya biarkan dari blog ini. Sedikit saya sampaikan bahwa tulisan ini saya buat berdasarkan kacamata pribadi dan masukkan-masukkan dari orang-orang yang saya kagumi. Dan saya ingin membaginya bersama para pembaca dengan topik mengenai "Seorang Ibu". Kenapa tentang seorang Ibu? Jelas karena Ibulah kita ada di dunia ini, karena Ibulah muncul seorang pemimpin besar, dan karena seorang ibulah kehidupan manusia ada dimuka bumi. Itu sebabnya kenapa saya ingin sekali menulis tentang seorang ibu.

Ibu atau mama atau mami atau apapun panggilan seorang anak terhadap orangtua perempuannya tetaplah memiliki arti yang penting buat kita semua. Penting bagi seorang anak untuk patuh, taat dan hormat kepada ibumya. Seorang ibu tidak pernah pamrih atas anaknya yang telah di besarkan, tidak pernah mengeluh meskipun lelah melanda tubuhnya, bahkan lupa untuk merawat dirinya ketika sang anak menangis karena harus ditemani setiap saat. Begitu besar jasa seorang ibu bagi anak-anaknya dan tidak akan pernah ternilai dengan harta semahal apapun di dunia ini.

Tapi apa balasan seorang anak? NOTHING!! bahkan untuk merawat ibunya di usia senja saja pasti saling iri dengan saudaranya kandung yang lain. Dan ada pula yang menitipkan ibunya ke panti jompo lantaran merasa keberatan mearawat ibunya yang sudah menjadikannya sebagai "Seseorang". Jadi tidak salah jika ada pepatah mengatakan bahwa kasih seorang ibu sepanjang jalan sedangkan kasih anak sepanjang galah.

Saya seringkali miris melihat kehidupan anak zaman sekarang, karena banyak dari anak zaman sekarang yang durka kepada ibunya, baik anak perempuan ataupun anak laki-laki.Ada yang menuntut ibunya hingga kepolisian dan pengadilan karena harta, Bahkan yang lenih gila lagi karena tidak dikasih uang oleh ibunya, lalu tega menyiksa bahkan sampai tega membunuhnya (Naudzubilahi Min Dzaliik). Entah apa yang ada dipikiran anak itu sehingga sampai tega berlaku demikian kepada ibu yang sudah membesarkannya. Padahal sudah banyak cerita-cerita yang menggambarkan azab seorang anak bila durhaka terhadap ibunya, tetapi masih saja banyak pula anak yang melakukan kedurhakaan itu. Ya, mungkin memang banyak faktor yang menyebabkan kedurhakaan seorang anak terhadap ibunya terutama dari masyarakat yang umumnya memiliki latar belakang ekonomi yang lemah, tapi apakah kita sebagai seorang anak tidak bisa memiliki akal yang sehat untuk mengingat betapa besar jasa seorang ibu untuk anaknya?? apakah hanya karena faktor ekonomi, ataukah keserakahan saja. Atau mungkin karena kurangnya ajaran agama yang di terima sehingga lemah iman daripada nafsu angkara murkanya terhadap orangtua perempuan.

Para Pembaca yang budiman, dalam hal ini saya ingin sekali mengajak anda dan saudara-saudara anda untuk melihat ke lingkungan keluarga diri kita sendiri apakah sebagai seorang anak kita sudah mampu berbuat baik ke orangtua, terutama ibu yang melahirkan kita. Jangan kita menunjuk jari dan mengacungkan ke orang lain hanya untuk merawat orangtua yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan kita. Sebagaimana Allah SWT ber berfirman: 

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,


Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)


Imam Al-Qurthubi menjelaskan,  
"Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya." (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)


Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,

"Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu. Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras. Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan. Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah. Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu. Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin."


(Akan dikatakan kepadanya),



“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)

(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

Para Pembaca yang budiman, mungkin kita tidak bisa menyebutkan satu persatu kapasitas atas hak seorang ibu terhadap anaknya, tetapi setidaknya penggambaran diatas bisa mwakili para pembaca tentang hak seorang ibu atau hak orangtua atas anaknya. Jangan pernah mendurkai orangtuamu terutama ibu yang telah melahirkanmu sebagaimana hadist-hadist ini,

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,


“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)


Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut,  

“Dalam hadits ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab,ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam.” (Lihat Fathul Baari V : 68)


Sementara, Imam Nawawi menjelaskan,

“Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaan ibu yang melebihi kemuliaan seorang ayah.” (Lihat Syarah Muslim XII : 11)

Marilah kita sama-sama berbuat baik kepada orangtua kita terutama Ibu, yang karenanya kita semua ada di dunia ini dan bisa menjadi orang besar. Janganlah menjadi celaka karena mendurhakai ibu atau ayah, karena orang yang celaka itu termasuk orang-orang yang merugi. 

Janganlah membuat kedua orangtuamu murka terutama ibumu, karena ditangannya segala keridho'an atas hidupmu berada, sebagaimana hadist berikut,

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.“ (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)
 
Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orangtua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka. Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))


Jika seorang ibu meridhai anaknya, dan do’anya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena do’a ibunya. Wal iyyadzubillaah..

Para Pembaca yang budiman, jangan sampai terucap dari lisan ibumu do’a melainkan kebaikan dan keridhaan untukmu. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkanlah diri kita pada sang ibu, berbaktilah, selagi masih ada waktu…

Ingatlah bahwa kelak kita juga akan menjadi orangtua yang mengharapkan bhakti seorang anak, dan bila ingin itu terjadi... Maka Berbhakti pula lah kita terhadap kedua orangtua kita terutama.. Ibumu... Ibumu... Ibumu... Lalu Ayahmu...

Salam...